Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Pastor Message

Showing posts with label Karakter diri. Show all posts
Showing posts with label Karakter diri. Show all posts

Ya Tuhan, Ternyata Pacarku Pemalas


Menjalin hubungan serius dengan seorang pria atau wanita merupakan langkah yang sudah benar Anda ambil untuk menggenapi rancangan Tuhan bagi Anda yakni menikah dan menggenapi visi Tuhan bersama pasangan Anda selama Anda berdua ada di muka bumi ini. Namun masalah yang sering terjadi adalah saat proses tersebut, Anda menemukan bahwa ternyata pasangan Anda memiliki sifat yang kurang baik dan salah satu sifat kurang baik yang penulis maksudkan disini adalah sifat malas.
Memiliki pasangan pemalas tentu saja membawa tekanan batin bagi Anda. Bagaimana tidak, jika Anda adalah seorang pekerja keras dan suka dengan hal-hal yang bersih, ternyata pasangan Anda merupakan seorang yang acuh tak acuh dengan tugasnya dan kurang menghargai kebersihan maka dapat dipastikan perselisihan-perselisihan diantara Anda berdua pasti akan terjadi.

Jika begitu, bagaimana mengatasi hal ini? Apakah Anda harus putus dengan pacar Anda atau ada jalan lainnya? Pertama yang harus dilihat oleh Anda adalah bagaimana proses Anda bisa akhirnya bisa menjalin hubungan serius dengan pacar Anda tersebut. Bila Anda mengatakan bahwa proses hubungan Anda berdua sudah dilalui dengan benar (sudah melalui proses pendoaan dan Anda mendapat jawaban iya dari Tuhan, sudah mendapat persetujuan dari orangtua dan juga kakak-kakak rohani) maka Anda tidak perlu untuk menyatakan putus dengan pacarnya Anda tersebut.

Lalu hal yang harus Anda cermati lagi adalah sejak kapan pasangan Anda tersebut menjadi pemalas. Ini penting karena dengan begitu Anda bisa mengetahui apa yang membuat ia menjadi seorang yang memiliki sifat yang kurang baik tersebut. Dapatkan informasi tentang hal ini dari temannya ataupun keluarganya. Utarakan isi hati Anda kepada dia tentang sifat buruknya yang tidak Anda sukai tersebut. Jangan lupa sampaikan juga rasa simpati kamu terhadap penyebab mengapa ia akhirnya seperti itu.
Yang perlu diingat pada saat Anda sedang mengajak bicara pasangan Anda tentang sifat buruknya adalah janganlah Anda menjadikan diri Anda sebagai subyek yang akan mengubah dirinya karena itu akan sia-sia. Posisikan diri Anda sebagai si pemberi masukan. Ingatlah, hanya dirinyalah sendiri yang bisa memutuskan untuk berubah atau tidak.
Jangan lupa jangan bawa pacar Anda ke dalam doa (kalau perlu ambillah puasa) karena percuma saja perkataan-perkataan yang Anda ucapkan kepadanya jika tidak menyertakan Tuhan di saat itu. DIA sanggup melakukan berbagai hal yang ajaib, yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya.
Setiap sifat buruk manusia dapat berubah, hanya saja perlu proses untuk melihat itu. Kesabaran dan keintiman Anda dengan Tuhan menjadi kunci yang tidak bisa diganggu gugat jika Anda mau melihat pasangan Anda menjadi manusia yang seperti Tuhan rindukan.



Source : Jawaban.Com / bm

BACA SELENGKAPNYA...

Mahal atau Murah ???

















Wanita menilai sebuah hadiah atau pemberian dari suaminya tidaklah melulu dari harga, tetapi juga nilai. Berapa banyak wanita hamil yang meminta sesuatu yang secara ekonomi tidaklah terlalu mahal, kadang hanya meminta ‘es cendol' atau ‘rujak cingur' tetapi dia merasa puas bahkan cukup puas hanya dengan mencicipi sedikit saja, karena sang istri ‘mendengar' betapa susahnya suaminya mendapatkan barang tersebut.Kepuasan yang dirasakannya bukan dari harga barang tersebut tapi dari nilainya. Jarak yang harus ditempuh suaminya, hujan yang diterobos, kesulitan yang harus dihadapi dengan bertanya sepanjang jalan, sampai akhirnya bagaimana ‘rujak cingur' itu akhirnya didapatkannya.
Kisah yang diceritakan suaminyalah yang memuaskan jiwa sang istri. Sang istri mendapatkan peneguhan betapa suaminya mengasihi dia. Wanita puas hanya dengan ‘MENDENGAR' cerita tersebut.

Sementara sang suami mungkin mulai berpikir bahwa ini adalah hal yang konyol. Setelah segala usaha dan jerih lelah yang harus dihadapinya, sang istri hanya makan sedikit, minum seteguk dan puas? Ini sekali lagi menunjukkan memang pria dan wanita memiliki kinerja otak yang berbeda. Wanita menikmati dan cukup puas di lidah atau bibir dan mulut serta kuat perasaannya, sedangkan pria kuat di logika dan pikirannya.
Pria dengan cepat pikirannya mengkalkulasi berapa kira-kira harga sebuah hadiah atau pemberian. Pria juga berpikir kalau dia memberi hadiah atau pemberian yang mahal, pasti akan diterima dan orang lain akan senang. Pria akan merasa percaya diri kalau dia memberikan sesuatu kepada orang lain yang mahal harganya.
Pria tidak terlalu perduli apakah suasana restoran dan pemandangan lingkungannya bagus, asal enak dan murah, mereka akan makan di sana. Wanita memasukkan unsur-unsur lain dalam pilihannya menentukan tempat makan. Suasana yang romantis, yang ada kolamnya, yang ada lilinnya, yang ada tamannya, yang tidak terlalu bising, dan faktor suasana lain yang berhubungan dengan perasaan dan bukan perut.

Jika menjamu customer atau relasi dan pria memilih restoran, maka bisa juga dia memasukkan unsur ‘gengsi' dan dia memilih tempat yang bergengsi, walau rasa makanannya tidak enak, karena pria tidak terlalu ‘perasa' dalam hal ‘rasa makanan'.

Bagaimana membentuk pernikahan yang bahagia dengan perbedaan-perbedaan ini? Hai suami-suami, berikanlah pemberian-pemberian atau hadiah-hadiah kecil bagi istri Anda. Tidak harus mahal, tapi itulah tanda cinta dan perhatian bahwa Anda mengingat dia.
Hai istri ikutilah nasehat Firman Tuhan ini:1 Timotius 2:9, Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal.
Kenapa Firman Allah menasehati demikian? Karena Tuhan yang menciptakan manusia, Dia mengerti bahwa pria lebih banyak menggunakan pikiran, kerja otak kiri yang maju. Ketika istri bercerita bahwa dia membeli baju, cincin, pakaian model terbaru, maka pria melihat bukan model dan warna bajunya (warna, model, seni itu kemampuan otak kanan), pria memperhatikan berapa harga barang tersebut.

Kalau istri bercerita, "Pa, tadi aku ke Plaza. Ini cincin, kalung, gelang warna putih ini bukan palsu. Ini justru emas putih. Lagi trend sekarang. Yang ini 5 juta, yang ini 500 ribu, yang ini 3,5 juta dst". Sementara suami mendengar, otak kiri (kemampuan angka) bekerja menjumlah semua angka dan mulai pusing serta berkata, "Ah, kayaknya biasa saja ma..." (dalam hati suami berkata, "Mahal... Aku yang bayar").

Lain kalau istri bercerita, "Pa, tadi aku ke Pasar Pagi. Ini baju hanya 50 ribu tapi jangan bilang-bilang yah. Ini cincin imitasi, kayak beneran kan pa? Harganya cuma 20 ribu dst dst,". Mayoritas suami akan berkomentar, "Ah, tapi kamu cantik lho ma. Bagus kok, benar bagus!!" (dalam hati suami berkata, "Murah soalnya").
Istri-istri, untuk siapa dan untuk apa Anda berdandan? Kalau supaya dicintai suami Anda, berdandanlah dengan perhiasan yang murah. Ini benar! Percaya saya, suami-suami akan senang dengan hal itu. Kalau untuk pamer, untuk gengsi, tentu saja lain lagi ceritanya. Pria lebih banyak melihat dengan otak kiri, melihat harga baju Anda, bukan warna atau model dan design dari baju itu.
Itu sebabnya kenapa pria juga sering memakai baju yang warnanya tidak ‘matching'.
Mazmur 112:5 berkata, Berbahagia yang melakukan urusan dengan sewajarnya.
Berdandan dan memakai perhiasan apakah itu emas atau mutiara tentu saja boleh yang penting WAJAR, tidak mahal-mahal, juga tidak harus murah sekali. Wajar atau mahal ini ‘relatif', artinya sesuai dengan penghasilan masing-masing. Wanita yang sederhana tidak akan diremehkan suaminya, justru akan dikasihi. Suami merasa aman dan akan ‘mempercayakan' keuangannya kepada istrinya.

1 Timotius 2:15, Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.
Amsal 31:10-11, Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

Sumber : Jarot Wijanarko – Pernikahan Bahagia
BACA SELENGKAPNYA...

Satu Jam saja....

Satu jam saja.....

Ajar kami Tuhan, meghitung hari-hari kami ....Agar kami beroleh hati bijaksana.

Satu kali seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak yang kecil dan berkata, “Tidak nak”.
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada putrinya.

“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tidak melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa, “mungkin tidak bisa juga, nak”.

“OK, ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”. Akhirnya ayahnya mengangguk, kemungkinan besar, bisa nak dan kasih Tuhan bisa memampukan kita untuk hidup benar.

Anak ini tersenyum lega, Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalani, aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku akan hidup benar....

Pernyataan ini mengandung kebenaran.Marilah kita hidup dari waktu ke waktu dan memperhatikannya.

Dari latihan yang paling kecil sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang selalu kita lakukan akan menjadi sifat, sifat akan berubah jadi karakter, karakter akan menjadi destiny.....
Hiduplah 1 jam tanpa marah, tanpa hati yang jahat, tanpa membicarakan orang, tanpa kesombongan, tanpa berpikir negative.
Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.
Hidup 1 jam dengan kasih, kesabaran, kemurahan, penguasaan diri
Dan ulangi lah untuk 1 jam berikutnya
Hidupilah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan dengan menjalaninya dari waktu ke waktu.

Have a blessed day

Quoted from: Joel Osteen...

BACA SELENGKAPNYA...

Minder, Sombong dan Percaya Diri - 3

Notes hari ini merupakan bagian terakhir dari Trilogi "Minder, Sombong, dan Percaya Diri". Bagi Anda yang belum membaca bagian pertama dan kedua dari Trilogi ini, harap membacanya terlebih dahulu untuk menjadi pengantar ke Trilogi yang terakhir ini.
Bagian terakhir dari Trilogi "Minder, Sombong, dan Percaya Diri" akan membahas mengenai percaya diri. Kalau diurutkan letak percaya diri itu di tengah-tengah antara minder dan sombong. Percaya diri merupakan suatu keyakinan diri bahwa dirinya berharga dan mampu untuk melakukan tugasnya. Ada seorang tokoh yang ingin saya bahas dalam kesempatan kali ini, yaitu Paulus.
Paulus merupakan seorang tokoh yang kenamaan pada zamannya. Awalnya ia bernama Saulus sebelum mengenal Kristus. Ia merupakan seorang Yahudi yang sangat mengerti benar hukum Taurat, pengetahuannya sangat mendalam mengenai Taurat, dan merupakan orang yang memiliki kemauan sangat keras.
Ia juga memiliki banyak relasi dengan para pemimpin Agama Yahudi (Kisah Para Rasul 9:1-2). Pendek kata, ia adalah seorang yang sangat percaya diri. Bagaimana tidak? Berpengetahuan tinggi, memiliki kemauan keras, dan memiliki banyak relasi dengan orang penting.
Apakah percaya diri yang seperti itu yang Tuhan maksudkan? Ternyata tidak. Percaya diri yang Tuhan maksudkan tidak didasari hanya oleh kesadaran akan kemampuan dan keberadaan diri semata, tetapi juga lebih dari itu untuk senantiasa menyandarkan diri pada kekuatan, kebesaran, dan ke-Maha-an Tuhan.
Ya, Paulus adalah seseorang dengan potensi yang luar biasa sehingga menjadi sangat percaya diri untuk menganiaya jemaat Tuhan saat itu. Ternyata percaya diri yang bersumber pada diri semata, bukanlah percaya diri yang Tuhan inginkan karena bisa jadi kebablasan dan kehilangan arah.
Kemudian Tuhan mengubahkan Saulus menjadi seorang yang benar-benar cinta pada-Nya bahkan menjadi salah seorang dari sekian banyak rasul yang paling militan untuk Kristus. Bahkan dalam 2 Korintus 11:24-28 dituliskan mengenai apa yang dialami Paulus karena Kristus, yaitu: - Sering sekali dipenjara, - Didera di luar batas, - Sering sekali dalam bahaya maut, - Lima kali disesah (dipukul) orang Yahudi dan setiap kali adalah empat puluh kurang satu pukulan, - Tiga kali didera, - Satu kali dilempari batu, - Tiga kali mengalami kapal karam, - Sehari semalam terkatung-katung di tengah laut, - Sering diancam bahaya banjir dan penyamun, - Bahaya dari orang Yahudi atau bukan Yahudi, - Bahaya di mana-mana (kota, padang gurun, di tengah laut), - Bahaya dari saudara palsu, dan bahkan - Walaupun Paulus berhak mendapat santunan dari jemaat namun ia tetap bekerja sebagai pembuat tenda supaya tidak bergantung pada jemaat dan membuat motivasi pelayanannya tetap murni.
Wow, sungguh seseorang yang luar biasa! Saya sangat mengagumi Paulus. Bahkan dalam kesemuanya itu, dia tidak pernah bersungut-sungut. Bahkan ia menuliskan dalam
Filipi 4:7: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Anda tahu kondisi apa yang dihadapi Paulus saat menuliskan surat bagi jemaat di Filipi tersebut? Silakan tebak, saya beri Anda tiga kesempatan. Saat sedang mengajar dengan para Rasul? No! Saat di sela-sela waktu senggangnya antara membuat tenda dan mengajar? Tidak! Saat sedang dalam perjalanan untuk mengajar? Bukan juga! Menyerah?
Anda tahu, ia menuliskan surat untuk jemaat di Filipi saat di penjara. Bayangkan! Di penjara dan Paulus masih bisa berkata "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!" What an outstanding man! Betapa pria yang luar biasa! Hal yang lebih luar biasa adalah kepercayaan dirinya itu adalah karena Tuhan.
Sampai akhir hidupnya yang mati dihukum pancung Paulus tetap memberitakan Injil dengan gagah berani. Ya, ia adalah seseorang yang telah menempatkan kepercayaan dirinya pada Tuhan sampai pada akhir hidupnya.
Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Paulus:1. Paulus mengenal benar dirinya, kelebihan, kelemahan, bahkan visi dan misinya. Mengenai diri Paulus dicatat dalam Kisah Para Rasul 21:39a: Paulus menjawab: "Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang terkenal di Kilikia;" dan dalam Filipi 3: 5-6: "disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat."
Kelebihan Paulus adalah tabah (2 Korintus 5:8), militan dan disiplin untuk menjadi berkenan pada Tuhan (2 Korintus 5:9), berhikmat (2 Korintus 5:13), diberi Tuhan tanda-tanda, kuasa, dan mujizat dalam pelayanannya (2 Korintus 12:12), dan bahkan pernah mengalami terangkat tingkat ketiga di surga dan memperoleh pernyataan-pernyataan Allah (2 Korintus 12:1-5).
Kelemahan Paulus adalah masa lalunya sebagai penghujat, penganiaya jemaat, dan ganas (1 Timotius 1:13), memiliki ‘duri dalam daging' (2 Korintus 12:7), secara ekonomi tidak kaya (2 Korintus 11:27-28).
Dalam Roma 15:18b-19b tertulis jelas visi dan misi Paulus, yaitu "..untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh."
Dengan mengenal benar tentang dirinya, kelebihan, kelemahan, bahkan visi dan misinya; Paulus menjadi seorang yang percaya diri. Namun tidak cukup hanya itu saja. Poin berikutnya ada di nomor 2.
2. Selain mengenal benar seluruh keberadaan dirinya, sumber percaya dirinya adalah Tuhan. Dalam Galatia 6:14: Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.
Ya sumber kepercayaan diri Paulus adalah Tuhan dan karunia keselamatan yang diberikan Kristus bagi semua orang yang mau menerima-Nya.
Apakah Paulus berhak untuk sombong? Seharusnya berhak sekali! Mulai dahulu saat ia masih menjadi penganiaya jemaat, yaitu karena keturunan yang baik, pengetahuan tinggi, relasi dengan petinggi-petinggi Agama Yahudi, sempai setelah ia menjadi pengikut Kristus yang radikal, yaitu karena segala yang telah ia kerjakan dan yang harga yang ia bayar karena memberitakan Injil Keselamatan.
Apakah Paulus berhak untuk minder? Ya seharusnya bisa juga! Ia secara ekonomi tidak kaya: pembuat tenda dan juga karena diberi ‘duri dalam daging' (2 Korintus 12:7). Dari berbagai sumber yang telah saya baca, tidak diperoleh satu konklusi yang sama tentang ‘duri dalam daging' karena semua masih berupa penafsiran-penafsiran.
Hal yang lebih menarik lagi adalah pandangan dan sikap Paulus terhadap kelemahannya. Dalam 2 Korintus 12:9b-10 dijelaskan secara terperinci pandangan dan sikap Paulus tersebut,
"...Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."
Sungguh-sungguh sikap hati yang perlu kita contoh! Kelebihan yang dimilikinya tidak menjadi sumber untuk sombong. Kelemahan yang dimilikinya tidak menjadi sumber untuk minder. Ia hanya bersandar dalam Kristus Tuhan. Puji Tuhan! Ya sikap hati ini yang perlu kita semua miliki.
BACA SELENGKAPNYA...

Kesimpulan : Minder, Sombong, dan Percaya Diri

Benang merah yang dapat ditarik dari trilogi pertama sampai ketiga adalah:

1. Minder dan sombong sebenarnya merupakan hal yang sama namun dilihat dari titik ekstrim yang berbeda. Bila Anda mengenal matematika, Anda mungkin akan mengingat titik ekstrim maksimum dan minimum.

Ya, memang berbeda dari sudut pandang, namun sama-sama merupakan titik ekstrim. Saat Anda minder, pada saat yang sama sebenarnya Anda sombong. Begitu pula sebaliknya, saat Anda sombong sebenarnya Anda sedang minder.



Titik fokus keduanya juga sama, yaitu menyoroti diri secara berlebih, berfokus pada diri secara berlebih, walaupun dari titik pandang yang berlawanan.

2. Sumber dari minder dan sombong adalah dosa yang belum dibereskan atau belum diakui, bahkan diabaikan dan ditutupi. Untuk itu perlu mengadakan pembersihan dan pemberesan hati dengan Tuhan (baca "For the Love of Myself").

3. Minder dan sombong pada dasarnya adalah belumnya mengenal diri secara utuh. Saat seseorang benar-benar mengenal diri secara utuh: kelebihan, kelemahan, visi dan misi yang Tuhan anugerahkan pada kita, saat itulah seseorang menjadi utuh. Mengenai keutuhan dan visi misi akan saya tuliskan pada notes-notes yang lain.

4. Pada saat seseorang benar-benar mencari Tuhan dengan sungguh, saat itu ia akan lebih mengenal dirinya dengan lebih baik lagi. Dalam Matius 6:33: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Hal ini saya alami sendiri. Pada saat saya merenungkan ayat ini, saya menemukan sesuatu hal yang baru. Saat saya mencari Allah dengan sungguh dan bukan sekedar ingin memperoleh berkat-Nya, saya menjumpai beberapa hal yang menarik. Ia membukakan berbagai hal yang baru pada saya, termasuk mengenai keberadaan saya.

Ia membuat saya mengerti diri saya, kelebihan, kelemahan, potensi, hal-hal yang perlu saya perbaiki, bahkan hal-hal yang dahulu pernah Ia katakan pada saya, hal-hal yang pernah saya alami bersama dengan Dia, hal-hal yang sudah lama saya lupakan. Ia memberikan pengertian-pengertian yang baru dan saat saya menyadari hal itu, pandangan saya berubah.

Saat pandangan saya berubah, cara pandang saya terhadap dunia dan kehidupan berubah. Bagi saya ini merupakan penggenapan dari firman-Nya. Ini bukan proses yang sekali jalan dan bukan proses yang sudah selesai, malah ini merupakan suatu awal proses bagi saya. Masih jauh sekali proses ini selesai bagi saya.

Saat saya makin mencari Dia, Ia membuat saya semakin menerima diri saya sendiri. Membuat saya semakin mencintai diri saya sendiri. Ya, di tengah kelebihan saya, saya juga memiliki kelemahan-kelemahan yang kadang sulit saya terima dan membuat saya minder.

Terkadang kelebihan yang saya miliki, membuat saya takabur dan Ia mengingatkan saya untuk tidak sombong. Ia membukakan bagi saya hal-hal baik yang sudah lama saya tidak ingat sama sekali. Betapa Tuhan itu baik!

5. Minder dan sombong dapat digantikan menjadi percaya diri dalam kerangka yang benar (percaya diri dalam Tuhan). Kuncinya hanya: MAU! Ya, mau berubah, mau diubahkan, dan mau bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Ya, ini bukan proses sekali jadi, diperlukan waktu, usaha, tenaga, pikiran, uang, bahkan kerendahan hati sebagai seorang murid.

Jadi? Minder? Sombong? Percaya diri?
Pilihan di tangan Anda!



Sumber : Archaengela

BACA SELENGKAPNYA...

Minder, Sombong dan Percaya Diri - 2

Artikel hari ini merupakan bagian kedua dari Trilogi "Minder, Sombong, dan Percaya Diri" dan "Seeing Through Unveiling Eyes and Heart." Saya menganjurkan bagi Anda yang belum membaca kedua artikel tersebut untuk membacanya terlebih dahulu.

Pada artikel hari ini akan dibahas mengenai sombong. Sombong artinya tinggi hati. Kecenderungan orang sombong ada empat, yaitu: merasa di puncak dunia, menyepelekan/meremehkan orang lain, memiliki kecenderungan untuk memuaskan keinginannya sendiri tanpa peduli nasehat orang lain, merasa apa yang sudah dicapainya semata-mata adalah karena usaha, kemampuan, dan pengalamannya sendiri.




Kalimat yang paling sering diucapkan oleh orang sombong:
- Aku yang paling hebat, yang paling pintar, paling cantik/cakep, paling lucu, paling kaya, paling dermawan, paling baik, paling berbakat, paling pintar bergaul, paling sexi, paling tenar,dst. (merasa di puncak dunia).
- Begitu aja ga bisa, payah banget sih? Memang kalau bukan saya yang pegang sendiri, tidak ada pekerjaan yang beres deh, pegawai di sini payah-payah, susah deh kalau bicara dengan orang yang ga se-level, dst. (menyepelekan/meremehkan orang lain).
- Aku pokoknya ingin ini, ingin itu; aku ga peduli pokoknya harus dapat apa yang aku mau (memiliki kecenderungan untuk memuaskan keinginannya sendiri tanpa peduli nasehat orang lain).
- Coba ga ada aku, pasti ga beres deh semuanya; untung deh pengalamanku udah segudang; iya aku kan memang pintar jadi masalah seperti ini sih sudah makanan sehari-hari; buat apa berdoa, yang penting usaha/belajar/kerja, dst. (merasa apa yang dicapainya semata-mata adalah karena usaha, kemampuan, dan pengalamannya sendiri).

Bagaimana? Sering mendengar kalimat-kalimat di atas? Merasa,"Wah itu saya banget" atau bahkan merasa,"Waduh kelihatannya orang yang bicara itu bisa jadi teman baik saya."

Bisa jadi kalimat-kalimat di atas sudah menjadi bagian sehari-hari kita. Banyak orang sadar atau tidak sadar jatuh dalam masalah kesombongan. Dalam Alkitab terdapat beberapa contoh orang sombong dan saya akan mengetengahkan satu tokoh untuk kita pelajari, yaitu Simson.

Kisah Simson dapat kita baca mulai dari Hakim-hakim 13-16. Siapakah Simson? Simson lahir dari orang tua yang takut akan Tuhan dan sebelum Simson lahir, Malaikat Tuhan sudah berbicara pada ibu Simson untuk tetap menjaga Simson dalam keadaan yang suci (tidak mabuk-mabukan dan selalu berpegang pada ketetapan Tuhan) (Hakim-hakim 13:14).

Roh Tuhan bahkan menuntun dan menggerakannya (Hakim-hakim 13:25).. Seseorang yang luar biasa bukan? Ya, seseorang yang istimewa. Karena Roh Tuhan berkuasa atas Simson, Simson menjadi sangat kuat sampai-sampai dapat membunuh singa bahkan dengan tangan kosong yang ia lakukan dengan mudahnya (Hakim-hakim 14:6) dan juga dapat mencabut pintu gerbang kota dan sampai ke tiang-tiangnya dan membawanya ke seberang puncak Gunung Hebron (Hakim-hakim 16:3).

Hanya saja sayangnya, Simson jauh dalam jerat kesombongan. Ia tidak mau menuruti nasehat ayah dan ibunya, dan hanya mengikuti keinginannya sendiri. Simson memuaskan diri dengan perempuan sundal di Gaza (Hakim-hakim 16:1), lalu kemudian dengan perempuan dari lembah Sorek, yaitu Delila (Hakim-hakim 16:4).

Merasa sudah kuat dan tidak ada yang dapat mengalahkannya (takabur), Simson bahkan pada akhirnya menceritakan rahasia kekuatannya pada Delila dan itulah kehancuran Simson (Hakim-hakim 16:17). Kemudian Simson ditangkap, dicungkil matanya, dirantai, dimasukkan ke dalam penjara, dan ditugaskan menggiling di penjara (Hakim-hakim 16:21).

Tragis sekali bukan? Ya, sangat ironis! Seseorang yang dikuasai Roh Tuhan, yang sejak lahir bahkan sudah dinubuatkan oleh Malaikat Tuhan untuk hidup kudus, ternyata berakhir dengan cara seperti. Tapi ternyata masih ada kelanjutan cerita Simson ini.

Ketika raja-raja Filistin berkumpul untuk mengadakan perayaan kepada dewa mereka, Simson disuruh untuk melawak (Hakim-hakim 16:23-25). Simson kemudian meminta pada anak yang menuntun dia (karena ia telah buta) untuk melepaskan Simson dan untuk membiarkan Simson meraba penyangga rumah itu sehingga Simson dapat bersandar pada tiang itu (Hakim-hakim 16:26).

Kemudian Simson berseru kepada Tuhan, Ya Tuhan Allah, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin" (Hakim-hakim 16:28).

Tuhan kemudian memberi Simson kekuatan sehingga Simson dapat membuat rumah itu rubuh. Hari itu walaupun Simson mati, yang mati dibunuhnya lebih banyak daripada yang mati dibunuh sewaktu ia masih hidup (Hakim-hakim 16:30).

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Simson:
1. Sumber-sumber kesombongan, yaitu: Simson berasal dari keluarga yang takut akan Tuhan, sejak lahir telah dinubuatkan Malaikat Allah mengenai cara Simson harus hidup, dan Roh Allah berkuasa atas dia sehingga Simson menjadi sangat kuat. Latar belakang keluarga yang baik, perkenan Tuhan atas kita, kemampuan-kemampuan kita itu semua merupakan anugerah dari Tuhan. Sama sekali kita tidak berhak untuk sombong.

Coba kita telaah satu persatu. Latar belakang keluarga yang baik: takut akan Tuhan, terpandang, ternama, kaya, keturunan orang baik-baik, dst. Pertanyaan saya adalah dapatkah kita memilih dari mana kita akan dilahirkan? Dari mana kita akan dibesarkan? Jawabannya adalah tidak! Bisa memiliki latar belakang keluarga yang baik adalah berkat.

Lalu pemberian nubuatan atau pemberian penglihatan oleh Tuhan mengenai hal-hal besar yang akan kita lakukan atau hadapi di depan. Hal ini memang bisa membuat kita merasa,

"Wow, it's so big! Wow, I'm the choosen one!" ("Wow itu begitu besar! Wow, aku orang terpilih!")
Hati-hati, memang itu sesuatu yang besar, sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang dahsyat; akan tetapi jika kita sombong, Tuhan dapat mengambil itu semua kembali.

1 Samuel 2:7: TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.
Segala sesuatu adalah anugerah, tanpa perkenan Tuhan tidak mungkin segala sesuatu yang besar itu diizinkan untuk kita nikmati.

Kemudian mengenai kemampuan-kemampuan kita, seperti Simson yang menjadi kuat karena Roh Allah berkuasa atas dia, demikian pula kita. Kemampuan-kemampuan kita itu ada karena kebaikan Tuhan. Ingat, jika kita sombong akan kemampuan-kemampuan kita, kita pasti akan jatuh!

2. Simson tidak mau menuruti nasehat ayah dan ibunya (Hakim-hakim 14:3). Nasehat yang diberikan oleh orang tua, sahabat, kakak, atau bahkan orang yang tidak kita kenal merupakan tuntunan Tuhan.

Sering kali kita berdoa meminta Tuhan memberikan tuntunan pada kita, tetapi saat kita diberi nasehat oleh orang-orang terdekat kita, kita ngotot. Merasa itu bukan dari Tuhan. Merasa nasehat yang diberikan terlalu sederhana, datang dari orang yang sederhana pula. Kecuali kalau nasehat itu datang dari hamba Tuhan yang terkenal, baru mau percaya.

Ingat, Tuhan bisa berbicara lewat berbagai cara! Tuhan itu adalah Allah yang ajaib, Allah yang berkuasa. Ia dapat menggunakan apapun untuk berbicara pada Anda. Bahkan batupun dapat Ia buat berteriak untuk menasehati Anda jika memang Ia mau

Lukas 19:40: Jawab-Nya: "Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak."

Jangan berpikir, "Ah orangtua saya sih pendidikannya rendah. Tahu apa sih mereka tentang hal ini?"
atau "Ah dia sih pekerjaannya cuma rendahan lah, ga level buat nasehatin saya."

Jangan sampai Anda jatuh dalam kesombongan seperti itu! Ingat Simson? Dalam Amsal 13:18: Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.

Ya karena mengabaikan didikan orang tuanya, karena tidak memperhatikan nasehat orang tuanya, Simson berakhir tragis. Dari seorang yang luar biasa dipakai Tuhan, menjadi buta bahkan dipermalukan. From Hero to Zero. Tragis!

3. Pada saat ditangkap, Simson dicungkil matanya sehingga menjadi buta. Sebenarnya Simson telah buta jauh sebelum matanya dicungkil. Kesombongan membuat Simson mengalami kebutaan mata dan hati (baca "Seeing Through Unveiling Eyes and Heart").

Ya, kesombongan membuat hatinya menjadi buta sehingga tidak bisa lagi melihat kebenaran. Ia sudah tahu bahwa perempuan yang bukan dari bangsanya itu merupakan perempuan yang tidak mengenal Allah, tetapi karena hatinya telah buta, ia tidak peduli.

Ya selain buta hati, Simson juga mengalami buta mata. Simson hanya bisa melihat kecantikan perempuan sundal di Gaza (Hakim-hakim 16:1) dan juga kecantikan Delila (Hakim-hakim 16:4). Bukannya melihat hal-hal yang tidak kasat mata, Simson hanya melihat yang dangkal.

MinderKecantikan dan keelokan paras, kegagahan dan kemolekan tubuh, harga, ketenaran, prestasi, kekuasaan, jabatan, semuanya itu adalah hal-hal yang ada di luar. Sifatnya sementara dan dapat dengan mudah berlalu. Jangan sampai dbutakan oleh hal-hal yang sifatnya sementara. Jangan sampai silau oleh hal-hal yang hanya sesaat.

Ada peribahasa, "Beauty is only skin deep, but character is lasting forever" (kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi karakter itu selamanya).

Kejarlah karakter, kejarlah Takut akan Tuhan, kejarlah hal-hal yang bernilai kekekalan. Jangan sampai dibutakan oleh hal-hal yang dangkal.

4. Karena kesombongannya, Simson jatuh dalam dosa kecemaran bahkan sombong sendiri adalah dosa. Satu dosa dapat membawa pada dosa yang lainnya. Dalam Amsal 6:16-19: Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Sombong dan minder seperti yang sudah saya bahas dalam Trilogi 1 kemarin merupakan saudara kembar. Saat seseorang sombong sebenarnya dia merasa minder. Merasa perlu menampilkan sesuatu untuk menutupi kelemahan dalam dirinya. Dalam hal Simson, bisa jadi kesombongannya adalah untuk menutupi dosa yang sudah dilakukannya.

Ya seperti madu yang diambilnya dari mulut kerangka singa (Hakim-hakim 14:9), dosa juga bisa terlihat begitu manis dan menggiurkan namun dosa tetaplah dosa, Hal yang manis (madu) tapi berasal dari sesuatu yang telah mati (kerangka singa). Itulah dosa. Kelihatannya menjanjikan tetapi membunuh pada akhirnya.

Lalu bagaimana bila kita sudah jatuh dalam kesombongan? Jangan kuatir, selalu ada jalan untuk bertobat. 1 Yohanes 1:9: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

5. Ketika Simson akhirnya kembali pada Tuhan dan minta kekuatan pada Tuhan, Tuhan memberikan kembali kekuatannya dan Simson dapat membunuh lebih banyak orang daripada yang mati dibunuh sewaktu ia masih hidup (Hakim-hakim 16:30).

Maksud ayat di sini bukan berarti membunuh itu baik lho. Jangan salah menafsirkan! Maksud ayat di sini adalah saat kita mau bertobat dan bersandar pada Tuhan, bukannya bersandar pada kekuatan, kemampuan, pengalaman, ataupun pada kecantikan, kepintaran, kekuasaan, harta kita; Tuhan dapat memberikan sesuatu yang bahkan melebihi apa yang dapat kita capai tanpa Tuhan.

Tuhan mau menerima kembali kita walaupun kita pernah sombong. Ya tidak ada yang tidak mungkin dan terlambat baginya. Bila kita mau bertobat, bersama Tuhan kita sanggup melakukan hal-hal yang besar.

1 Korintus 2:9: Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Puji Tuhan! Luar biasa! Begitu besar yang dijanjikannya bagi kita.
Jadi masih sombong? Ingat, orang sombong akan jatuh! Tidak mau jatuh?
Ayo, buang jauh-jauh kesombongan kita!

BACA SELENGKAPNYA...

Minder, sombong dan Percaya Diri

Artikel ini merupakan trilogi karena akan membahas tiga hal berbeda pada tiap artikelnya, jadi jangan lewatkan setiap pembahasannya. Saya membuat artikel kali ini dalam bentuk trilogi supaya pembahasannya lebih terfokus pada setiap hal dan tidak terlalu panjang.

Pada artikel ini terlebih dahulu akan saya bahas tentang minder. Untuk dua bahasan yang lain dapat Anda baca pada bahasan berikutnya. Minder artinya adalah rendah diri. Kecenderungan utama orang minder ada 4, yaitu: mengasihani diri, membenci diri, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan iri pada orang lain.

Kalimat yang paling sering diucapkan oleh orang minder:
- Aku memang orang paling menyedihkan di dunia ini, aku tidak bisa melakukan apapun, aku memang pecundang, aku orang kalah, aku orang paling jelek sedunia, dst (mengasihani diri sendiri).
- Seandainya aja aku tidak dilahirkan di dunia ini, aku benci diriku sendiri, dst (membenci diri sendiri).
- Seandainya saja saya bisa seperti si A, wow si B bisa segala macam, sedangkan aku? dst (membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain).
- Ah dia bisa begitu paling juga karena menyuap, kalau saya punya uang banyak saya juga bisa seperti dia, dst (iri kepada orang lain).

Apakah kalimat-kalimat itu akrab di telinga Anda? Apakah begitu membacanya Anda merasa menemukan teman senasib sepenanggungan? Well.. you're not alone. Banyak orang sedang bergumul dengan masalah keminderan ini. Dalam Alkitab pun terdapat beberapa contoh orang yang minder dan saya akan membahas satu tokoh saja, yaitu Musa.

Musa adalah seorang Israel yang dihanyutkan ke sungai karena saat itu ada perintah untuk membunuh anak-anak laki-laki dari Bangsa Israel (Keluaran 1:22).. Lalu kemudian Musa ditemukan oleh putri Firaun dan diangkat sebagai anaknya (Keluaran 2:5-10).

Lalu kemudian setelah Musa besar, ia melihat bangsanya ditindas oleh orang Mesir dan lalu ia membunuh orang Mesir tersebut (Keluaran 2:11-12). Karena ketakutan Musa kemudian melarikan diri dan kemudian menjadi gembala kambing dan domba di Midian (Keluaran 2:15, 3:1).

Ketika kemudian bangsa Israel terus-menerus ditindas dan Allah merasa kasihan dengan penderitaan mereka, Tuhan teringat akan Musa dan Tuhan ingin memakai Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari penderitaan di Mesir (Keluaran 2:23-25, 3:10). Namun apa jawaban Musa? Menarik sekali, jawaban Musa adalah ini:
"Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11).

Lalu Tuhan memberikan kata-kata peneguhan pada Musa bahwa Tuhan akan menyertainya selalu dan bahkan sudah memberikan gambaran akan apa yang dihadapi Musa dan bangsa Israel (Keluaran 3:12-22).

Namun Musa masih tetap bertanya ,"Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1).

Tuhan tetap menguatkan Musa dan memberikan tanda mujizat pada Musa yaitu tongkat yang ada pada Musa dapat berubah menjadi ular dan dapat kembali menjadi tongkat, dapat membuat tangannya putih seperti kena kusta dan juga dapat kembali seperti semula, bahkan dapat mengubah air dari Sungai Nil menjadi darah (Keluaran 4:2-9).

Apakah setelah diberikan tanda mujizat, Musa menjadi yakin dan mau melakukan tugasnya? Oh sayangnya tidak. Dia masih terus bertanya, "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10).

Tuhan masih menjawab Musa bahwa Ia akan menyertai Musa dan memberitahukan hal-hal yang harus Musa katakan (Keluaran 4:11-12).

Apakah kisah ini berakhir sampai di situ? Ternyata tidak! Musa masih menjawab, "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus" (Keluaran 4:13).

Dengan kata lain, Musa menolak tugas tersebut. Karena apa? Karena ia merasa tidak mampu, merasa tidak sanggup, merasa minder. Perhatikan reaksi Tuhan dalam Keluaran 4:14: Tuhan murka.
Tetapi Tuhan masih tetap sabar dan memberi Musa bantuan berupa Harun, saudara Musa untuk membantu Musa berbicara kepada Bangsa Israel (Keluaran 4:14-16).
Pada akhirnya Musa bisa membawa Bangsa Israel keluar dari Mesir (Keluaran 14:15-31).

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Musa:
1. Kejatuhan Musa dari anak angkat putri Firaun menjadi seorang gembala membuat Musa minder.
Ya, peristiwa kegagalan seseorang dapat mengubah orang yang percaya diri menjadi minder. Hal ini berkaitan erat dengan cara pandang/pola pikir terhadap masalah. Apakah sesuatu yang buruk menjadi gembala? Tentu tidak! Memiliki cara pandang/pola pikir yang benar ini sangat penting bagi hidup kita.
Selain cara pandang/pola pikir terhadap masalah, kita juga perlu dapat melihat melampaui apa yang terlihat dan apa yang nyata saat itu (memiliki iman). Mengenai cara pandang/pola pikir terhadap masalah dan iman telah saya bahas dalam "Cinta = Luka?" walaupun dalam konteks permasalahan cinta namun dapat dibuat secara general untuk permasalahan apapun.

2. Dari semua perkataan Musa, coba hitung berapa banyak dia mengucapkan kata Aku? Dari 4 kalimat ada sedikitnya 6 kata "aku" yang terlontar. Maksud saya di sini bukan untuk menguji apakah Anda dapat menghitung kata "aku" atau tidak? Hahahha, sama sekali saya tidak sedang berniat main tebak-tebakan dengan Anda.
Maksud saya adalah begitu banyaknya kata "aku" yang dikeluarkan Musa menunjukkan keminderan dari Musa justru merupakan suatu bentuk cinta yang berlebihan pada diri sendiri. Cinta berlebihan pada diri sendiri menunjukkan kesombongan.
Menarik bukan? Sementara banyak orang mengatakan minder merupakan lawan dari sombong, tetapi sesungguhnya minder dan sombong memiliki suatu dimensi yang sama: keakuan, merasa diri yang paling penting walau diungkapkan dengan cara yang berbeda. Minder melihat keakuan dalam cara ekstrim kiri, sedangkan sombong melihat keakuan dalam cara ekstrim kanan.
Sumber dari keakuan adalah ego. Semakin tinggi ego seseorang maka semakin besar kemungkinan keakuannya semakin tinggi, yah entah akan jatuh pada minder atau sombong. Akibat dari keakuan yang semakin tinggi adalah sikap egois: mementingkan diri sendiri dan merasa orang lain kurang penting atau bahkan sama sekali tidak penting.
Lalu bagaimana untuk mengatasi keegoisan? Dalam Kolose 3:10: dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Kunci pertama untuk mengatasi keegoisan adalah mau diperbaharui oleh Tuhan. Selain itu dalam Filipi 2:3b-4:
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Kunci kedua untuk mengatasi keegoisan adalah menempatkan orang lain sebagai yang lebih penting.

3. Musa merasa tidak pandai bicara. Hal ini menunjukkan Musa hanya berfokus pada kelemahannya saja. Ia tidak menghiraukan kelebihan yang ada pada dirinya. Dengan kata lain suka untuk melihat sisi negatif.
Pernah melihat orang yang senang mengritik? Sukanya hanya melihat sisi negatif saja? Tidak pernah puas baik dengan hasil kerja diri sendiri maupun orang lain walaupun yang dikerjakannya sudah sangat baik? Ya itu ciri-ciri orang yang minder.
Lalu bagaimana mengatasi hal ini? Tuhan mengatakan pada Musa untuk melihat apa yang ada dalam tangannya (Keluaran 4:2). Ya, Tuhan menginginkan kita semua, saya dan Anda untuk berfokus bukan hanya pada hal-hal yang tidak kita miliki, tapi justru berfokus pada hal-hal yang kita miliki.

Bukan hanya berfokus pada kelemahan-kelemahan kita, tetapi justru berfokus pada kelebihan-kelebihan kita.

Bukan berarti kita harus mengabaikan kelemahan-kelemahan kita, tetapi kita perlu memberi porsi yang bijaksana dalam memandang kelemahan dan kelebihan kita.
Dalam buku "How Full is Your Bucket?" yang ditulis oleh Tom Rath dan Donald O. Clifton Ph.D dijelaskan mengenai penelitian selama lebih dari 30 tahun terhadap 839 orang pasien di Klinik Mayo. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan orang yang optimis memiliki resiko yang lebih kecil untuk mengalami kematian dini.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa selain memperpanjang usia, emosi positif dapat menyembuhkan rasa sakit, trauma, dan dalam waktu yang lebih cepat. Lihat efek kenegatifan? Jadi jangan menjadi orang yang minder bila ingin umur panjang!

4. Musa membuat Tuhan yang begitu sabar menjadi murka. Ya, minder dapat membuat Tuhan jadi murka. Hal yang membuat Tuhan menjadi murka adalah dosa. Jadi, minder = dosa. Mengapa demikian? Karena Allah telah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya (Kejadian 1:27). Kalau manusia menjadi minder, ini adalah akibat dari dosa.
Ingat kasus Adam dan Hawa yang menyembunyikan diri (karena malu, tidak percaya diri, minder) dari Allah setelah makan buah dari pohon pengetahuan (akibat berdosa)? (Kejadian 3:8).
Merasa masih minder? Mungkin masih ada dosa yang belum Anda akui atau Anda belum mengampuni orang lain? Coba bawa hal itu di hadapan Allah dan minta Roh Kudus menerangi hati dan pikiran Anda sehingga bisa menyingkapkan hal tersebut.

5. Musa pada akhirnya bisa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir melewati Laut Merah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Orang yang begitu minder seperti Musa, bisa membawa suatu bangsa yang besar keluar dari Mesir dengan menyebrangi Laut Merah.

Ini terjadi karena dua hal: pertama Musa mau percaya dan taat pada Tuhan walaupun pada awalnya minder dan kedua karena Musa mau melangkah/bertindak walaupun ia memiliki keterbatasan-keterbatasan.
Dua hal ini merupakan kunci utama untuk mengatasi keminderan dan keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
Jadi masih minder? Ingat, bersama Tuhan kita sanggup melakukan segala perkara! Mari buang jauh-jauh keminderan kita!


BACA SELENGKAPNYA...

Hal Yang Membuat Pria PeDe








Pendidikan
Hal ini tentu saja biasa dijadikan patokan untuk menilai seberapa layak seorang pria mendapatkan pujaan hatinya. dengan pendidikan yang ada pada seorang pria, mereka diharapkan untuk dapat membuktikan bahwa mereka adalah laki-laki yang pintar dan dapat menaklukan hati para wanita.

Dengan keahlian dan pendidikan mereka, pastinya mereka dapat membuat para wanita menjadi kagum. Tapi ingat, Anda tidak perlu sok tahu. Dengan pengetahuan Anda dan menjadi seperti diri Anda sendiri maka Anda dapat duhargai. Mungkin Anda dapat mencari tahu lewat internet, membaca buku, bahkan kursus.

Penghasilan
Tidak dapat dipungkiri bahwa uang adalah kebutuhan semua orang. Maka pria berpenghasilan baik adalah salah satu pemikiran semua wanita. Dengan penghasilan pas-pasan mungkin Anda dapat membuat wanita yang Anda cintai senang, tetapi alangkah bahagianya melihat wanita yang Anda cintai merasa nyaman berada di dekat Anda. dan hal ini harus disertai dengan sikap santun dan gentleman.
Fisik
Kesan pertama yang Anda lihat dari seseorang adalah fisiknya. Bila penampilannya menarik maka otomatis mata Anda tidak akan bergeser dari orang tersebut. Fisik adalah masalah yang sensitif. Tidak semua orang senang bila masalah ini dikemukakan. Namun tentu saja wanita ingin kekasihnya berpenampilan menarik didepannya dan orang-orang. Bila Anda memiliki badan lebih pendek dari wanita yang Anda sukai, jangan kecil hati. Karena tidak semua wanita mematok harga mati dengan fisik. Cinta tumbuh dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Jadi, cobalah dan tetap berusaha merebut hatinya dengan cara yang tepat.
Kenali dulu orang yang Anda sukai dengan baik. Lakukan pendekatan dengan langkah yang benar. Buktikan bahwa Anda layak menjadi kekasihnya. Bila Anda melakukannya dengan tulus maka segala sesuatunya pasti berjalan lanca. Jangan lupa untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk menunjukkan jalan-Nya.

Sumber : conectique/berbagai sumber
BACA SELENGKAPNYA...

Kelemahlembutan Mendatangkan Kuasa







"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23)

Banyak orang Kristiani maupun tidak Kristini yang telah keliru memahami definisi Alkitab dari kata kelemahlembutan. Semua orang tahu bahwa Yesus lemah lembut, dan mereka biasanya menghubungkan kelemahlembutan-Nya dengan kemampuan-Nya untuk menderita aniaya tanpa melawan atau membalas sedikit pun. Padahal kelemahlembutan sebenarnya mempunyai tiga definisi yang jauh lebih luas daripada hanya tidak membalas.



Menurut James Strong dalam bukunya "Strong's Exchaustive Concordance of the Bible", Orang yang lemah lembut mempunyai sikap 1) penuh penguasaan diri dan tidak cepat menyerang ataupun membalas, 2) mempunyai roh dan cara berpikir yang rendah hati, 3) mau diajar. Ketiga atribut inilah yang membentuk buah Roh Kelemahlembutan dalam pribadi seorang yang beriman.
Fungsi pertama dari buah Roh kelemahlembutan adalah memampukan orang-orang beriman untuk mengembangkan roh penguasaan diri sehingga tidak mudah menyerang ataupun membalas.
Banyak orang Kristiani masa kini yang menganggap mereka bersikap lemah lembut jika mereka tidak tersinggung bila ditegur oleh karena kesalahan-kesalah yang telah mereka perbuat. Tetapi, sebenarnya kita tidak dapat menyamakan penderitaan seseorang yang telah membuat kesalahan atau melakukan kejahatan sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan terjadi bila seseorang tidak tersinggung ketika ia harus menderita karena hidup dalam kebenaran.
Orang yang benar lemah lembut memiliki penguasaan diri tidak mengeluarkan reaksi yang negatif walaupun ia dituduh, difitnah, disakiti, atau dianiaya. Kekuatan untuk menguasai diri sementara menderita ketidakadilan dimilikinya karena ia telah memupuk buah roh kelemahlembutan.
Fungsi kedua dari buah kelemahlembuatan adalah membuat orang-orang beriman mampu hidup dalam roh dan pikiran yang rendah hati. Seorang sarjana Alkitab terkemuka W.E Vine mengartikan kelemahlembutan sebagai "kebalikan dari sikap suka menonjolkan dan mementikan diri sendiri;..sama sekali tidak memusatkan perhatian kepada diri sendiri."
Orang Kristiani yang mengembangkan buah Roh kelemahlembutan di dalam dirinya akan mendapatkan bahwa Ia mempunyai sikap baru, yakni kesejahteraan orang lain menjadi lebih penting daripada kesejahteraan dirinya. Pada saat hal ini terjadi, orang Kristiani ini akan mendapatkan bahwa suatu rintangan besar yang sebelumnya membuat ia tidak bisa maju dalam kehidupannya telah hancur.
Sebagai contoh, jika ia menghadapi suatu pencobaan, umpamanya menderita suatu penyakit, ia tidak hanya akan mendoakan dirinya melainkan juga mendoakan orang lain yang sedang menghadapi cobaan yang sama. Hanya kelemahlembutan bisa membuat seorang beriman memiliki pikiran yang rendah hati untuk mendahulukan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain daripada kesejahteraan dan kebahagiaan dirinya sendiri (baca keluaran 32:30-32).
Fungsi ketiga dari buah Roh kelemahlembutan adalah membuat orang-orang Kristiani mau menerima pengajaran Firman.
Firman hanya dapat tertanam dalam hati kita bila kita lemah lembut. Penerimaan terhadap Firman "yang tertanam dalam hati" akan membuahkan "keselamatan jiwa"; yakni kemampuan untuk bertahan sampai pada akhirnya, berkemenangan, tidak dapat dikalahkan iblis. Kemampuan ini hanya dapat diperoleh jika kita memiliki roh yang mau diajar.
Penghalang terbesar yang dihadapi orang Kristiani yang mau mengembangkan sikap roh yang mau diajar adalah adat istiadat manusia. Suka atau tidak, ada hal-hal dalam adat istiadat yang sudah temurun diajarkan oleh orang tua kita harus dikikis agar kebenaran firman Tuhan dapat kita terima secara utuh. Ketika kita menuruti Roh kelemahlembutan maka hal ini bukanlah permasalahan yang sulit karena kuasa Tuhan lah yang membantu menjalani keputusan yang menurut kita berat tersebut.
Setelah kita mengerti akan fungsi dari Roh kelemahlembutan terus bertumbuh dalam hidup kita, maka pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah, "bagaimana cara menumbuhkannya?" Setidaknya ada 3 cara, yakni pertama dengan melakukan puasa. Dengan berpuasa maka sebenarnya Anda sedang belajar untuk mengorbankan hal-hal yang penting dalam hidup Anda, dalam hal ini yang Anda korbankan adalah nafsu makan Anda. Ketika Anda berhasil melaksanakannya sebenarnya itu dapat menjadi tolok ukur kemungkinan besar akan bersedia juga mengorbankan hal-hal lain yang dimilikinya bagi orang tersebut bila dianggapnya perlu. Ingat, bahwa salah satu unsur dari Roh kelemah lembutan adalah penyangkalan diri, yang mencakup antara lain berpuasa atau tidak makan.
Cara kedua adalah dengan mengambil manfaat dari pengalaman padang gurun kehidupan. Kehidupan Musa adalah contoh yang menunjukkan betapa Allah menunjukkan pengalaman-pengalaman padang gurun untuk mengembangkan kelemahlembutan dalam diri anak-anakNya. Dan cara ketiga atau terakhir adalah melakukan penyangkalan diri. Kelemahlembutan merupakan kebalikan dari sikap mementingkan diri sendiri. Yesus ketika hidup sebagai manusia pun melakukan hal ini (baca Filipi 2:5-8). Dia mengosongkan dirinya agar kehendak Allah tergenapi di bumi. Yesus menyangkal diri-Nya sendiri dan mau taat akan tugas yang diberikan Allah kepada-Nya. Hasilnya adalah saat ini hubungan antara manusia dengan Allah pun kembali tersambung.
Memiliki Roh kelemahlembutan di dalam diri seseorang adalah sebuah hal yang luar biasa. Dengan terus menerus mengembangkan buah kelemahlembutan maka orang tersebut sebenarnya akan semakin rendah hati terhadap setiap ajaran firman Tuhan.
Begitupun dengan Anda saat ini. Ketika Anda mau belajar mengembangkan buah kelemahlembutan, firman Tuhan yang Anda dengar dan baca akan membakar hati Anda untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Miliki dan kembangan buah Roh kelemahlembutan itu sekarang dan jadilah orang yang menjadi pembawa kabar injil keselamatan itu kepada setiap orang yang Anda temui.

- Jawaban.com -
BACA SELENGKAPNYA...

TUHAN BEKERJA DI ATAS KELEMAHAN KITA

Baca: 2 Korintus 12:1-10

“‘Cukup!ah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna, Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12:9

Kelemahan adalah suatu keterbatasan yang kita warisi atau kita dapatkan karena adanya suatu peristiwa yang terjadi di mana kita tidak punya kuasa menolaknya. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, baik itu secara fisik, emosi ataupun intelektual. Karena itulah tidak seharusnya seseorang bermegah atau membanggakan diri sendiri.

Bila kita merasa memiliki banvak kelemahan, tidak seharusnya kita menjadi takut, pesimis dan mengasihani diri sendiri, karena sesungguhnya semua orang pasti punya kelemahan. Mungkin saat ini kita merasa berada dalam kelemahan karena keterbatasan dalam hal keuangan (hidup dalam kekurangan atau tidak mampu secara ekonomi); terbatas secara pendidikan (tidak sekolah tinggi); keterbatasan secara fisik (cacat, punya sakit-penyakit) atau juga keterbatasan emosional (trauma, sakit hati, kepahitan, luka-luka batin) dan lainnya. Dan kesemuanya itu ada satu hal yang harus kita perhatikan yaitu kelemahan bukanlah masalah utama, namun yang terpenting adalah apa yang kita kerjakan ketika menyadari bahwa ada kelemahan dalam diri kita.

Adakalanya pilihan mengijinkan ada kelemahan dalam hidup kita, dengan tujuan agar kita belajar rendah hati dan juga menunjukkan kuasa-Nya atas kita. Tuhan tidak pernah terkesan dengan orang-orang yang merasa dirinya pintar, kuat dan mampu dengan kekuatan sendiri, tetapi sangat tertarik kepada orang-orang yang menyadari dan mengakui keterbatasan, ketidakberdayaan atau kelemahannya. Banyak kisah dalam Alkitab tentang orang-orang biasa yang memiliki banyak kelemahan, namun hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Contohnya Musa, sebelum menjadi pemimpin besar Israel, ia adalah orang yang tidak percaya diri dan merasa tidak layak (Keluaran 4:10) Ingat! Walaupun kita memiliki kelemahan, Tuhan tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita. Kita adalah bejana-bejana tanah liat, Dia penjunannya, Saat kita ijinkan Tuhan bekerja melalui kelemahan kita. Dia akan membentuk kita jadi bejana yang luar biasa.

Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Tuhan karena Dia yang memberi kekuatan (baca Filipi 4:13).

BACA SELENGKAPNYA...

Silahkan Isi Buku Tamu ini...

Acara apakah yang paling kamu sering ikuti di gereja?

Promo Keren dan Diskon Gede Setiap Hari di Living Social....!!!

Promo Keren dan Diskon Gede Setiap Hari di Living Social....!!!
Dapatkan Promo terbaik dan Diskon terbesar untuk member Living Social. Nikmati makanan terlezat dan pengalaman tak terlupakan dengan Promo Living Social yang pasti Murah